KELOMPOK ILMIAH REMAJA

Minggu, 05 April 2009 |

KARYA ILMIAH REMAJA.

Salurkan Ide Kreatif Remaja

HARI gini, gak umum kalo remaja hanya identik dengan hura-hura dan main-main. Tak sedikit loh kawan kita yang ngerti untuk terus mengembangkan diri dan mengasah kemampuan. Tidak hanya belajar di sekolah setiap hari,tetapi juga mengolah kemampuan diri lewat berbagai kegiatan. Salah satunya dengan kegiatan KIR, Karya Ilmiah Remaja.

Nah, kamu yang namanya remaja, tentu udah sering mendengarkan kegiatan yang satu ini. Meskipun memang tak semuanya bisa mengikuti kegiatan ini, tapi jangan kecil hati. Karena kamu masih bisa aktif di kegiatan yang lain.

Sejarah KIR

Keberadaan kelompok ilmiah remaja tak lepas dari pemikiran bahwa menggali ilmu dari bangku sekolah saja dirasakan tidak pernah cukup. Kurikulum sekolah tidak selalu berubah, padahal di luar sekolah ilmu berkembang sangat pesat. Gelombang informasi mengenai penemuan-penemuan baru maupun modifikasi dari yang sudah ada di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi muncul dalam hitungan menit.

Kesadaran seperti itu muncul dalam Konferensi Anak-anak Sedunia yang diselenggarakan di Grenoble, Prancis, yang diselenggarakan Organisasi PBB Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebuday (UNESCO), pada 1963. Kesadaran tersebut menggiring ke arah kesepakatan menciptakan kegiatan-kegiatan ilmiah yang terarah demi mengejar ketertinggalan pendidikan resmi di sekolah.

Kegiatan itu disebut out of school scientific and technical education (pendidikan teknik dan keilmuan di luar sekolah). Program pendidikan di luar sekolah itu harus dilaksanakan dengan cepat, terutama di negara-negara berkembang, yang sangat ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Program ditujukan bagi kelompok sasaran kelompok usia muda, terutama yang masih duduk di bangku sekolah menengah, baik pertama maupun atas. Pertemuan Grenoble merumuskan untuk kalangan sasaran itu perlu diciptakan klub-klub ilmiah yang disebut youth science club bagi kelompok usia 12-18 tahun.

Sejak itu, seperti dituliskan oleh Kikiek Haryodo dan Sofar Silaen dalam Mutiara edisi 28 Maret-10 April 1984, kelompok ilmiah remaja tumbuh dan berkembang di berbagai negara. Pada 1969, Kepala Bagian Penerangan Humas LIPI, lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, Drs Soedito, mulai mewadahi kelompok-kelompok ilmiah remaja yang mulai bermunculan.

Tujuan Karya Ilmiah Remaja :

1. Melatih dan mempertajam daya analisis, kreatifitas dan inovatif siswa.
2. Mempertajam kepekaan siswa terhadap masalah lingkungan dan sosial.
3. Mengasah kemampuan menulis ilmiah.
4. Menyiapkan siswa dalam perlombaan baik lokal, nasional, maupun internasional.

Manfaat yang dapat dirasakan oleh anggota KIR, yakni :

1. Meningkatkan daya nalar, kreativitas dan daya kritis,
2. Membangkitkan rasa ingin tahu,
3. Menambah wawasan pemikiran terhadap IPTEK,
4. Memperluas informasi dan komunikasi yang positif,
5. Mengenal cara-cara berorganisasi yang baik,
6. Membangkitkan motivasi belajar dan berkompetisi positif, dan
7. Mengenal sikap-sikap ilmiah (objektif, jujur, terbuka, toleran, optimis, pemberani, kreatif, tekun, dan bertanggung jawab), serta
8. Tumbuhnya rasa cinta terhadap lingkungan alam sekitar.

Manfaat bagi guru/pembimbing KIR, seperti :

1. Memperluas wawasan terhadap perkembangan IPTEK,
2. Meningkatkan keterampilan dalam pembimbingan KIR dan karya tulis ilmiah remaja,
3. Menambah khasanah pengetahuan yang dapat menumbuhkan pelajaran formal di sekolah,
4. Menambah nilai prestasi (angka kridit)bagi guru pembimbing.

Manfaat bagi sekolah, adalah :

1. Ikut membentuk iklim ilmiah di sekolah,
2. Wahana yang efektif untuk mengembangkan potensi dan pengalaman antarsekolah, (3) meningkatkan citra positif menuju sekolah unggulan,
3. Membangunan dan memperluas hubungan kerja sama dengan instansi terkait.

Manfaat bagi masyarakat, yaitu:

1. Meningkatkan sikap berdaya kritis dan terbuka terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di lingkungannya,
2. Membantu memberikan alternatif penyelesaian beberapa persoalan sosial budaya seperti kenakalan remaja, dekadensi moral, dan lain-lain melalui kegiatan penelitian,
3. Membangun dan meningkatkan kesadaran bahwa kemajuan bangsa dapat dicapai melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,
4. Meningkatkan kesedaran akan pentingnya pendidikan, dan
5. Melestarikan lingkungan dan sumber daya alam yang ada.

0 komentar:

Poskan Komentar